MODEL PEMBERDAYAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL-MAWADDAH HONGGOSOJO KUDUS


Pondok pesantren merupakan salah satu bentuk (model) lembaga pendidikan Islam di Indonesia memiliki tujuan utama menyiapkan santri untuk mendalami dan menguasai ilmu agama Islam (tafaquh fi al-din), dengan tugas, dakwah menyebarkan agama Islam dan benteng pertahanan umat dalam bidang akhlak, serta berupaya meningkatkan pengembangan masyarakat di berbagai sektor kehidupan. Memandang pentingnya pesantren mengembangkan diri menjadi pusat kelembagaan ekonomi bagi warganya di dalam dan luar pesantren. Kenyataannya adalah lembaga potensial untuk bergerak kearah ekonomi berbasis rakyat, sebagaimana kekuatan yang dimilikinya. Untuk melakukan ini pada tahap awal harus dibidik kebutuhan-kebutuhan santri dan masyarakat sekitar agar produk yang ditawarkan segera diperoleh imbal balik, baru bisa bergerak ke sector lain jika kondisi sudah memungkinkan. Selanjutnya adalah melakukan analisis SDM untuk kegiatan tersebut karena pesantren sesungguhnya kaya dengan SDM berkualitas, hanya saja belum disentuh dengan kekuatan maksimal untuk itu. Fenomena pengelolaan lembaga pendidikan dan harapan pemberdayaan pesantren menjadi menarik untuk dikaji ketika dihadapkan pada realitas sosial lembaga pendidikan yang berbasis pesantren yang secara eksklusif ada di tangan kiai, dengan tanpa mempertimbangkan kualitas akademik maupun profesionalitas kependidikannya sebagaimana lembaga pendidikan non basis pesantren lainnya. Asumsi yang berkembang dalam masyarakat, kiai adalah patron bagi masyarakat sekitar, terutama yang menyangkut kepribadian utama, dan kiai memainkan peranan yang lebih dari sekedar seorang guru. Kiai adalah pendiri atau pemimpin sebuah pesantren, sebagai muslim "terpelajar" yang telah membaktikan hidupnya "demi Allah" serta menyebar luaskan dan mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Dan pada umumnya di masyarakat kata "kiai" disejajarkan pengertiannya dengan ulama dalam khazanah Islam.

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tidak hanya dituntut menyiapkan santri ahli agama dan berdakwah melainkan juga sebagai benteng pertahanan umat dan pengembangan masyarakat di berbagai sektor kehidupan. Karena itu pesantren perlu mengembangkan diri menjadi poros ekonomi masyarakat berbasis kerakyatan, sebagaimana kekuatan yang dimilikinya. Kiai sebagai pemimpin puncak pesantren harus mampu melakukan analisis sumberdaya santri agar bisa menjadi SDM yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi kiai dalam pemberdayaan santri di Pondok Pesantren entrepreneur al- mawaddah adalah a) Menetapkan visi mencetak insan yang bertaqwa, berakhlak muliah, berilmu amaliah, beramal ilmiyah,kreatif, trampil, mampu berkompetisi dalam era global berdidikasih tinggi dalam agama dan bangsa. b) menjadi mawaddah (kasih sayang) dalam menjalankan segala sesuatu. Dengan misi mengispirasi dan memberikan yang terbaik dalam proses pemberdayaan untuk meraih puncak prestasi dengan berpijak pada prinsip-prinsip unversal serta kearifan lokal.

Dalam  pandangan islam pemberdayaan merupakan sebuah gerakan yang tidak terputus atau berkelanjutan. Sedemikian hal itu ternyata sejalan dengan paradigma agama islam yakni agama yang bergerak atau agama perubahan, seperti yang tercantum di dalam (Al-  Quran surat Al- Radu [13]:11). Yang mempunyai arti baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain dia.

Di ponpes al- mawaddah di desa hanggosoco jekulo kudus berani tampil beda dengan pondok pesantren yang lain, pesantren ini bahkan mempunya peraturan untuk para santrinya untuk tidak diperbolehkan meminta uang saku kepada orang tuanya. Para santri dilatih mandiri dan berjiwa kewirausaha selain itu ponpes al-mawaddah ini memiliki tempat eduwisata dan beberapa usaha yang berupa toko sepatu, pom mini, timbangan barang bekas atau timbangan tebu dan kedai nyoklat yang sepenuhnya di kelola oleh para santri-santrinya. Selama masa pandemi seperti sekarang ini untuk eduwisatanya untuk sementara ditutup terlebih dahulu, akan tetapi untuk yang lainnya masih dibuka sesuai peraturan yang di perintahakan oleh pemerintah untuk jam tutupnya. Tidak hanya memiliki usaha sendiri akan tetapi juga pondok pesantren ini sebagai media atau tempat untuk masyarakat sekitar menyetorkan hasil panennya ke pabrik-pabrik besar seperti garuda indofood. Banyak masyarakat sekitar yang menyetorkan hasil panennya ke pondok al-mawaddah ini. Hasil panen yang biasanya di setorkan oleh para petani lokal berbagai macam dari dari jahe, kencur, tebu, ketela dan lain-lain. 

Seiring dengan perkembangan zaman, didirikanlah pondok pesantren pada tahun 2018 diharapkan dapat merubah kondisi sekitar dan santri untuk mandiri di tambah dengan kondisi yang sekarang di hadapi oleh seluruh indonesia bahkan di seluruh dunia sedang mengalami kondisi yang sama. banyak sekali minuman yang beredar dikalangan masyarakat. Salah satunya minuman yang menawarkan khasiat kesehatan bagi tubuh. Di indonesia banyak minuman kesehatan yang sudah biasa dikonsumsi oleh masyarakat kita, salah satunya minuman jahe. Hanya saja karena proses pembuatannya yang membutuhkan waktu yang lama sehingga minuman ini tergeser oleh minuman lain yang lebih praktis, selain itu juga minuman jahe kurang memiliki daya tarik terhadap anak muda yang lebih memilih minuman yang kekinian. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan suatu inovasi dengan membuat minuman herbal instan dengan menggunakan bahan baku jahe yang dan kemudian dilakukan pelatihan juga terhadap masyarakat. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah menikmati khasiat dari minuman jahe tersebut dan dapat menjadi peluang usaha untuk meningkatkan penghasilan terutama untuk ibu-ibu. Dalam kegiatan pelatihan ditemukan suatu temuan bahwa masyarakat sangat membutuhkan kegiatan yang mampu memberdayakakan ibu-ibu sehingga mamupu menambah penghasilan keluarga. Selain itu ditemukan data bahwa setelah minuman jahe dikemas secara instan peminat minuman tersebut bertambah dari kalangan masyarakat tua hingga para anak muda.

Disaat-saat ini lah minuman helbal sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk meninggatkan sehingga pondok pesantren al-mawaddah ini membuat minuman olahan dari jahe merah untuk di jual santri-santri dan di pasarkan sehingga di saat pandemi seperti ini para samntri tetap mendapat pengahasilan dan santri juga semakin kreatif dan inovatif.Dengan adanya problematika tersebut pemberdayaan santri di pondok  pesantren al-mawaddah ini kita memanfaatkan sumber daya manusianya dengan membentuk belajar privat. Kita ikut berpartisipasi dalam kegiatan proses belajar mengajar sersebut kita dapat berbagi ilmu dengan para adik-adik.

Dokumentasi

Pelatihan pembuatan minuman helbar dari jahe


Bimbel dengan anak-anak sekitar pesantren





Reverensi


A. Muri Yusuf, 2015, Metode Penelitian, Kuantitatif, Kualitatif & Gabungan Jakarta Prenada Media Grup. 

Agustinus Sri Wahyudi, 1996, Manajemen Strategik:Pengantar Proses Berfikir Strategik, Bandung: Binarupa Aksara 

Asyari, 2011, Pendidikan Islam, Jakarta : Rubbani Press. 

Azis Muslim, 2009, Metodologi Pengembangan Masyarakat, Yogyakarta, Teras.

Baharuddin, 2012, Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam; Menuju Pengelolaan Profesional Dan Kompetitif, Malang: Uin Maliki Press.

 DEPAG RI, 2003, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, Jakarta. 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta : Balai Pustaka.

 Edi Suharto, 2009, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Bandung, Refika Aditama. 

Faturrohman Pupuh dan Sutikno M. Sobry, 2014, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam, Bandung: PT Refika Aditama. 

H.A. Malik Fadjar, 1988, Visi Pembaruan Pendidikan Islam, Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penyusunan Naskah Indonesia (LP3NI), Jakarta



Comments